Subuh dingin di satu hari baik kala itu, tahun-tahun terakhir kita bersama. Kamu masih setia dengan gincu warna merah itu, merekah dan tampak sangat megah menyatu di bibir tipismu. Aku juga masih setia dengan memelukmu dalam tiap tidur malamku sampai subuh ini.

Sampai pada akhirnya, kita tenggelam kembali. Lubang menganga yang jadi penghalang kita sudah hilang, sirna. Tapi masih ada yang akan selalu menjadi penghalang aku dan kamu, bukan jarak antara kita tapi bahasa. Ya, Kita dibagi menjadi dua oleh bahasa. Kamu adalah bahasa dalam tiap aku bertutur dan bernapas. Aku adalah bahasa dalam tiap kali kamu melangkah dan terus melangkah pada kepergian yang kubenci.

Aku masih ingat ketika teduhnya rinduku menjelma dalam diamku. Itu rindu paling teduh untuk kamu, tapi kamu masih setia pada tempatmu di sudut ruang hati. Waktu itu, kita sedang duduk berdua untuk pertama kalinya. Kamu menunggu pesawatmu yang jadwalnya masih beberapa jam lagi, sedangkan aku menunggu waktu yang tepat untuk menyapa kamu.

Hmm… hmm… Gumam yang kau dendangkan dalam mulut yang mengatup.
“Sedang menunggu seseorang atau menunggu pesawat?” ucapku waktu itu.
“Menunggu pesawat, kamu?”
“Sama seperti kamu. Tujuan mana?”
“Jakarta.”
“Rumah saudara?”
“Bukan, hanya ingin berlibur.”

Setelah itu, jam dinding dan arlojiku saling berpacu.

Klek-klek-klek-klek… Suara arlojiku yang tak bisa berhenti di gendang telinga.
Kemudian, pesawatmu telah siap untuk lepas landas. Aku yang masih terduduk disini, mencoba untuk beranjak pergi tapi masih nanti. Karena yang aku tahu, tepat di atas bangku tempatmu duduk tadi, ada puisi yang menjelma jadi lagu dan dengan sengaja aku menamakanmu dengan lagu itu.

Kamu, puisi yang menjelma jadi lagu, lagu yang menjelma jadi waktu, waktu yang menjelma jadi namamu. Aku memelukmu dalam tiap tidur malamku sampai subuh ini. Andai saja, waktu itu adalah keberanianku yang muncul, maka bisa saja kamu tak bakal berangkat ke Jakarta. Pertemuan yang singkat, tapi akankah sebuah pertemuan yang singkat menjadi tolak ukur cinta? Aku rasa tidak, karena aku sudah merasakannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *