Lautan seakan jadi rumahmu. Bisikan ombak jadi suara paraumu. Angin laut yang dingin jadi helaan napasmu. Lambai nyiur kelapa jadi helai rambutmu. Kamu, malam ini, penguasa lautan di seluruh duniaku. Bukan dunia manusia, tapi dunia yang kubuat sendiri dari asa yang ku himpun sendiri bersama sepi. Sampai pada tiba saatnya, aku terduduk di pinggiran bibirmu, dan jilat lidahmu menyusup ke dalam sela jemari kakiku.

Kemudian aku berenang menuju pusatmu. Melawan terjangan napasmu yang buat ombak begitu bergemuruh. Di tengah pusatmu, aku merindukan rupamu yang sedingin ini, yang tak semudah ini kuraih, yang tak mudah pula dijangkau oleh orang lain selain aku seorang. Lalu aku mencoba menyelam menuju palung yang kau simpan agar orang lain selain aku tidak dapat menjangkaunya. Tapi, aku kecewa, ketika kudapati bahwa palung yang dulu hanya kau buat untukku. Kini telah ramai dengan bangkai kapal para pengagum dirimu.

Lalu aku kembali ke pinggiran bibirmu, mencari rupamu yang dulu buat aku tersipu. Tapi tak jua aku temui itu, apakah sudah sebegini rusaknya kamu? Sampai rupamu saja, kau tak bisa tampakkan kepadaku.

Dulu, kau pernah berkata impianmu adalah menjadi lautan di alam khayalku, aku pun berjanji bahwa bila itu terjadi aku akan selalu tenggelam di rupamu. Dan kini, kau sudah menjadi lautan itu tapi rupamu saja yang tak jadi bagian lautan itu. Rupamu kini telah kutemui, bersandar pada bahu lelaki di seberang lautanku sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *