Menulis Karena Senang

Beberapa hari lalu saat minum kopi di kedai yang ada di kota saya, tiba-tiba saya terbayang sesuatu tentang menulis. Adalah satu pertanyaan yang seharusnya saya sendiri pikirkan jauh-jauh hari. Kenapa menulis di blog? Apakah bisa menghasilkan profit dari blog? Sebenarnya, saya tidak terlalu memikirkan tentang profit dan segala macamnya. Saya hanya ingin menulis sesuatu yang saya suka. Menulis sesuatu yang memang ada di pikiran saya. Tidak peduli apakah ramai atau

Kita Abu.

Kita Abu. Kita abadi dalam hitam dan putih yang menjadikan kamu aku, Abu. Djogdjakarta, 14 Agustus 2018   Aku akan Aku ingin mencintaimu dengan sepenuhnya tidak ada jarak tidak ada waktu tidak ada apapun hanya aku dan kamu.   Aku ingin mencintaimu selamanya tidak ada kapan tidak ada kenapa tidak ada tanda tanya apapun tanya kita.   Aku akan menunggumu seterusnya sampai tidak ada lagi yang bisa ditunggu. 30 Agustus

Pada Sebuah Titik Temu

Pada sebuah titik temu, Aku kembali satu. Di sorong oleh desir lautan dan bisikan angin menuju arah yang belum tahu kemana. Aku hanya bisa menunggu dan melihat ruang dengan riuh penuh. Lalu, berangjak pergi masuk ke dalam palung yang dipenuhi raungan rindu. Nyiur-nyiur kelapa sedang menari kala itu, di bawahnya Aku sedang jatuh hati. Bukan dijatuhi oleh dagingku sendiri. Tawa dan canda yang hadir dari setiap pesonamu membuat aku masih

Buku dan Tulisan sebagai Bahan Bakar Akal

    Tiap manusia memang sudah punya otak dan pasti memang harus berakal, beda dengan hewan yang memang punya otak tapi tidak punya akal hanya mengandalkan insting liarnya. Tapi apakah semua manusia menggunakan otaknya untuk mengolah akal dengan maksimal? Kita tahu bahwa Indonesia sedang menjalani masa kritis karena banyak sekali penyebaran hoax dan juga adanya kampanye politik menjelang pilpres 2019. Hoax yang menjurus kearah kebencian, kampanye yang menjatuhkan salah satu

Mari Bicara

  Siang ini, salah satu hari yang harusnya baik, Saya memilih untuk menjadi nakal┬ásedikit. Meninggalkan kelas perkuliahan karena sudah terlalu jenuh di dalam kelas. Betapa tidak, Saya merasa mata kuliah hari ini susah sekali untuk masuk dan dicerna oleh otak Saya yang memiliki kapasitas hanya 2 kb saja. Sudah dapat dipastikan bahwa Saya akan sangat tertekan, bukan karena aura dari dosen saya yang membuat tertekan tapi karena kinerja otak Saya