Sebotol Bir & Kematian

Seperti biasa, Katno adalah orang paling mabuk sedunia. Ia tidak pernah bisa menenggak lebih dari 5 gelas bir. Tapi menurutnya, ia masih saja kuat dan gagah setelah gelas ke enam lalu berjalan tiga langkah ke depan dan ambruk. Tertidur. Tapi malam ini adalah malam untuk pertama kalinya ia datang lagi ke Barsita, pemiliknya bernama Sita, tempat paling indah para pemabuk dunia malam. Beda dengan pemabuk dunia pagi, mereka biasanya hanya

Kita Abu.

Kita Abu. Kita abadi dalam hitam dan putih yang menjadikan kamu aku, Abu. Djogdjakarta, 14 Agustus 2018   Aku akan Aku ingin mencintaimu dengan sepenuhnya tidak ada jarak tidak ada waktu tidak ada apapun hanya aku dan kamu.   Aku ingin mencintaimu selamanya tidak ada kapan tidak ada kenapa tidak ada tanda tanya apapun tanya kita.   Aku akan menunggumu seterusnya sampai tidak ada lagi yang bisa ditunggu. 30 Agustus

Mulut dan Telinga

Dalam sebuah percakapan antara Mulut dan Telinga terbitlah suatu pemahaman baru yang hanya bisa di mengerti oleh keduanya saja.   “Hey, Mulut. Siapakah di antara kita yang paling berjasa?” tanya Telinga. “Jangan kau tanyakan itu. Sudah jelas, Aku-lah yang paling berjasa,” jawab Mulut. “Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu dengan penuh percaya diri?” “Dasar Telinga, Apa kamu tidak mendengar pidato-pidato para pejabat? Apa kamu tidak mendengar gosip-gosip para selebriti? Apa

Pada Sebuah Titik Temu

Pada sebuah titik temu, Aku kembali satu. Di sorong oleh desir lautan dan bisikan angin menuju arah yang belum tahu kemana. Aku hanya bisa menunggu dan melihat ruang dengan riuh penuh. Lalu, berangjak pergi masuk ke dalam palung yang dipenuhi raungan rindu. Nyiur-nyiur kelapa sedang menari kala itu, di bawahnya Aku sedang jatuh hati. Bukan dijatuhi oleh dagingku sendiri. Tawa dan canda yang hadir dari setiap pesonamu membuat aku masih

Yang Menjelma Jadi Lagu Dan Menjadi Namamu

Subuh dingin di satu hari baik kala itu, tahun-tahun terakhir kita bersama. Kamu masih setia dengan gincu warna merah itu, merekah dan tampak sangat megah menyatu di bibir tipismu. Aku juga masih setia dengan memelukmu dalam tiap tidur malamku sampai subuh ini. Sampai pada akhirnya, kita tenggelam kembali. Lubang menganga yang jadi penghalang kita sudah hilang, sirna. Tapi masih ada yang akan selalu menjadi penghalang aku dan kamu, bukan jarak