Sebotol Bir & Kematian

Seperti biasa, Katno adalah orang paling mabuk sedunia. Ia tidak pernah bisa menenggak lebih dari 5 gelas bir. Tapi menurutnya, ia masih saja kuat dan gagah setelah gelas ke enam lalu berjalan tiga langkah ke depan dan ambruk. Tertidur. Tapi malam ini adalah malam untuk pertama kalinya ia datang lagi ke Barsita, pemiliknya bernama Sita, tempat paling indah para pemabuk dunia malam. Beda dengan pemabuk dunia pagi, mereka biasanya hanya

Mulut dan Telinga

Dalam sebuah percakapan antara Mulut dan Telinga terbitlah suatu pemahaman baru yang hanya bisa di mengerti oleh keduanya saja.   “Hey, Mulut. Siapakah di antara kita yang paling berjasa?” tanya Telinga. “Jangan kau tanyakan itu. Sudah jelas, Aku-lah yang paling berjasa,” jawab Mulut. “Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu dengan penuh percaya diri?” “Dasar Telinga, Apa kamu tidak mendengar pidato-pidato para pejabat? Apa kamu tidak mendengar gosip-gosip para selebriti? Apa

Pada Sebuah Titik Temu

Pada sebuah titik temu, Aku kembali satu. Di sorong oleh desir lautan dan bisikan angin menuju arah yang belum tahu kemana. Aku hanya bisa menunggu dan melihat ruang dengan riuh penuh. Lalu, berangjak pergi masuk ke dalam palung yang dipenuhi raungan rindu. Nyiur-nyiur kelapa sedang menari kala itu, di bawahnya Aku sedang jatuh hati. Bukan dijatuhi oleh dagingku sendiri. Tawa dan canda yang hadir dari setiap pesonamu membuat aku masih

Yang Menjelma Jadi Lagu Dan Menjadi Namamu

Subuh dingin di satu hari baik kala itu, tahun-tahun terakhir kita bersama. Kamu masih setia dengan gincu warna merah itu, merekah dan tampak sangat megah menyatu di bibir tipismu. Aku juga masih setia dengan memelukmu dalam tiap tidur malamku sampai subuh ini. Sampai pada akhirnya, kita tenggelam kembali. Lubang menganga yang jadi penghalang kita sudah hilang, sirna. Tapi masih ada yang akan selalu menjadi penghalang aku dan kamu, bukan jarak

Tenggelam Aku di Rupamu

  Lautan seakan jadi rumahmu. Bisikan ombak jadi suara paraumu. Angin laut yang dingin jadi helaan napasmu. Lambai nyiur kelapa jadi helai rambutmu. Kamu, malam ini, penguasa lautan di seluruh duniaku. Bukan dunia manusia, tapi dunia yang kubuat sendiri dari asa yang ku himpun sendiri bersama sepi. Sampai pada tiba saatnya, aku terduduk di pinggiran bibirmu, dan jilat lidahmu menyusup ke dalam sela jemari kakiku. Kemudian aku berenang menuju pusatmu.

Mari Bicara

  Siang ini, salah satu hari yang harusnya baik, Saya memilih untuk menjadi nakal sedikit. Meninggalkan kelas perkuliahan karena sudah terlalu jenuh di dalam kelas. Betapa tidak, Saya merasa mata kuliah hari ini susah sekali untuk masuk dan dicerna oleh otak Saya yang memiliki kapasitas hanya 2 kb saja. Sudah dapat dipastikan bahwa Saya akan sangat tertekan, bukan karena aura dari dosen saya yang membuat tertekan tapi karena kinerja otak Saya