Kita Abu.

Kita Abu. Kita abadi dalam hitam dan putih yang menjadikan kamu aku, Abu. Djogdjakarta, 14 Agustus 2018   Aku akan Aku ingin mencintaimu dengan sepenuhnya tidak ada jarak tidak ada waktu tidak ada apapun hanya aku dan kamu.   Aku ingin mencintaimu selamanya tidak ada kapan tidak ada kenapa tidak ada tanda tanya apapun tanya kita.   Aku akan menunggumu seterusnya sampai tidak ada lagi yang bisa ditunggu. 30 Agustus

Mulut dan Telinga

Dalam sebuah percakapan antara Mulut dan Telinga terbitlah suatu pemahaman baru yang hanya bisa di mengerti oleh keduanya saja.   “Hey, Mulut. Siapakah di antara kita yang paling berjasa?” tanya Telinga. “Jangan kau tanyakan itu. Sudah jelas, Aku-lah yang paling berjasa,” jawab Mulut. “Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu dengan penuh percaya diri?” “Dasar Telinga, Apa kamu tidak mendengar pidato-pidato para pejabat? Apa kamu tidak mendengar gosip-gosip para selebriti? Apa

Pada Sebuah Titik Temu

Pada sebuah titik temu, Aku kembali satu. Di sorong oleh desir lautan dan bisikan angin menuju arah yang belum tahu kemana. Aku hanya bisa menunggu dan melihat ruang dengan riuh penuh. Lalu, berangjak pergi masuk ke dalam palung yang dipenuhi raungan rindu. Nyiur-nyiur kelapa sedang menari kala itu, di bawahnya Aku sedang jatuh hati. Bukan dijatuhi oleh dagingku sendiri. Tawa dan canda yang hadir dari setiap pesonamu membuat aku masih

Konspirasi Yu’ Wer Sang Penjaga Kantin

Siang itu, Yu’ Wer si penjaga kantin, gadis belia 21 tahun yang sedang matang-matangnya sedang melayani para pelanggan yang memesan makanan. Salah satu dari pelanggan itu, Si Ripal, adalah karyawan perusahaan tempatnya bekerja sebagai penjaga kantin. Ripal sudah sedari dulu menyimpan rasa ke Yu’ Wer yang bekerja di kantin tempatnya bekerja dan Yu’ Wer tahu gelagat itu sedari dulu. “Yu’, aku nasi campur satu sama es teh satu yah,” ucap

Yang Menjelma Jadi Lagu Dan Menjadi Namamu

Subuh dingin di satu hari baik kala itu, tahun-tahun terakhir kita bersama. Kamu masih setia dengan gincu warna merah itu, merekah dan tampak sangat megah menyatu di bibir tipismu. Aku juga masih setia dengan memelukmu dalam tiap tidur malamku sampai subuh ini. Sampai pada akhirnya, kita tenggelam kembali. Lubang menganga yang jadi penghalang kita sudah hilang, sirna. Tapi masih ada yang akan selalu menjadi penghalang aku dan kamu, bukan jarak

Tenggelam Aku di Rupamu

  Lautan seakan jadi rumahmu. Bisikan ombak jadi suara paraumu. Angin laut yang dingin jadi helaan napasmu. Lambai nyiur kelapa jadi helai rambutmu. Kamu, malam ini, penguasa lautan di seluruh duniaku. Bukan dunia manusia, tapi dunia yang kubuat sendiri dari asa yang ku himpun sendiri bersama sepi. Sampai pada tiba saatnya, aku terduduk di pinggiran bibirmu, dan jilat lidahmu menyusup ke dalam sela jemari kakiku. Kemudian aku berenang menuju pusatmu.

Setetes Embun Untuk Perempuanku

Aku letakkan setetes embun yang dingin dalam bola matamu kali ini agar kamu tahu betapa sejuknya embun itu membasuh rongga-rongga matamu. Tapi aku masih belum bisa memastikan, apakah embun itu bisa bertahan selama mungkin agar matamu tetap sejuk selama mungkin. Menurutmu bagaimana? Apakah bisa bertahan selama mungkin, paling tidak selama kamu sendiri tidak menangis dan mengeluarkan tetes embun itu bersamaan dengan linang air matamu. Embun paling dingin yang kukirimkan padamu

Catatan Terakhir Joko

    Dalam satu hari buruk, Joko dan Juni akan segera berpisah karena keadaan ekonomi yang memaksa Joko untuk pergi bertolak ke luar negeri menjadi TKI. Berbekal pengetahuan bahasa inggris yang minim seperti rok yang dipakai cabe-cabean, Joko meninggalkan kekasih hatinya yang belum lama di pacarinya. Drama perpisahan seperti di film-film korea jadi bumbu dalam perpisahan Joko dan Juni di Bandara. Maklum saja, mereka baru seminggu menjalin kasih dan belum