Dalam satu hari baik, kita bertemu dalam sebuah cangkir percakapan. Kamu adalah kopi yang mengisi secangkir itu dan aku adalah gula yang tenggelam dan larut oleh kopi itu. Semua orang takkan pernah mau menyalahkan kamu dan hanya akan memuji kamu. Betapa tidak, Kopi manis saja yang disalahkannya gula. Kopi pahit dipujinya kopi saja. Tapi tidak apa, asal saja kita tidak dipisahkan oleh gelas yang berbeda. Atau bahkan kamu yang hanya diseduh tanpa aku.

Aku tuliskan surat ini, apabila kamu sedang berada di cangkir yang berbeda denganku. Kamu yang sedang dalam secangkir percakapan dan sedang lupakan aku. Percayalah, kerinduanmu terhadap ciuman di pinggiran cangkir itu tak mungkin bisa mengalahkan rasa nyamanmu ketika aku membalutmu dengan kelembutanku. Kamu takkan lengkap tanpa aku, karena aku bisa saja menjadi gula atau debu, kasihmu atau perihmu, aku bisa lakukan apa saja. Tapi memang hanya sebagai pelengkap kamulah aku dicipta.

Kamu ingat ketika kita masih berjalan dipinggiran jalan, hujan temani kita, baju-baju kita yang basah jadi pelengkapnya. Tanpa kamu tahu, akulah pula yang menjelma jadi pelukan hangatmu kala itu dan kamu, kamu adalah rinduku yang paling teduh. Kala itu, kita adalah dua penjelmaan kopi dan gula yang sedang asik bermain hujan. Menari-nari dan berputar-putar sampai kitapun lupa bahwa sebenarnya kita sedang berada dalam secangkir percakapan. Kamu kopinya dan aku gula yang memang selalu dilupakan. Larut dan tenggelam tanpa sisa, sedangkan kamu masih saja meninggalkan bekas sebagai tanda bahwa kamu memang harus tinggal. Akulah yang harus tanggal.

Untuk kopi tanpa gula, jangan lupakan bahwa kita pernah satu. Sampai akhirnya kau disesapi perlahan lewat mulut secangkir itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *