Satu hari baik, malam baik, Saya sedang bosan mengopi dirumah atau tempat biasa saya mengopi yang ada di dekat rumah saya. Untuk menghilangkan rasa candu akan secangkir kopi, maka saya bergegas pergi ke tempat yang paling favorit bagi diri saya sendiri. Karena untuk pertama kalinya saya merasakan kopi yang berbeda dari biasanya adalah di tempat ini. Kopi Kasar, entah khas dari daerah mana kopi ini karena setahu saya dari Gresik, cmiiw.
Tempat mengopi saya malam ini juga tak seperti di kafe-kafe atau warung-warung kopi biasanya yang banyak berjejeran di pinggir jalan. Seperti sebuah rumah yang memang sengaja dipergunakan untuk warung kopi saja. Memang varian kopinya tidak selengkap atau seberagam di kafe-kafe, tapi suasana dari tempat inilah yang membuat saya selalu rindu.
Cara meminumnya pun juga unik, karena serbuk kopi yang masih amat kasar maka harus menggunakan sendok. Di tiriskan saja serbuk kopi yang masih mengambang, tak perlu dibuang karena ketika ditiriskan di dalam cangkirnya serbuk itu akan tenggelam dengan sendirinya. Saya pun tak tahu lagi kalau cara yang saya lakukan ini benar atau ada cara lain yang lebih benar.
Saya hanya meminum kopi dengan cara yang tidak perlu dirumuskan, tidak perlu perhitungan. Saya hanya meminum kopi dengan seada-adanya kopi itu. Sangat sederhana, karena memang itulah yang seharusnya dilakukan. Saya tak perlu belajar untuk mengerti dari secangkir kopi. Saya hanya tahu bahwa kopi yang saya minum adalah hasil dari para petani kopi, ditangannya kopi-kopi tumbuh dengan baik. Kemudian di tangan si pembuat secangkir kopi juga, rasa kopi dapat menghasilkan nikmat ketika di minum. Kebetulan saya pun kenal dengan si pembuat kopi ini, si abang-abang penjaga warkop ini. Mungkin karena saya dulu sering sekali mampir kesini.
Walau sudah terlampau lama (ada kiranya 3 bulan), saya tidak mampir kesini untuk sekadar mencicipi kopi kasarnya.
Warung Kopi 1866, nama tempat mengopi saya malam ini. Dengan suasana yang menurut saya sepi dan memang saya suka itu, menambah kenikmatan saya mengopi dan membangun kembali mood menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *