Aku letakkan setetes embun yang dingin dalam bola matamu kali ini agar kamu tahu betapa sejuknya embun itu membasuh rongga-rongga matamu. Tapi aku masih belum bisa memastikan, apakah embun itu bisa bertahan selama mungkin agar matamu tetap sejuk selama mungkin. Menurutmu bagaimana? Apakah bisa bertahan selama mungkin, paling tidak selama kamu sendiri tidak menangis dan mengeluarkan tetes embun itu bersamaan dengan linang air matamu.

Embun paling dingin yang kukirimkan padamu itu, akan memberi arti hidup pada tiap helaan napasmu. Embun yang aku ambil dari pagi yang paling menawan, diatas daun bunga melati. Lengkap dengan semerbak wanginya yang akan mengisi ruang hampa di peparumu. Dan tak akan pernah ada yang tahu bahwa aku mengirimkan embun paling romantis itu padamu, perempuanku.

Perempuanku, kamulah yang paling puisi dari sepotong senja, dari setetes embun, dari hujan bulan juni. Akan kugambarkan sekali lagi betapa aku sangat tenggelam kedalam jurang yang kau simpan di relung hatimu.

Ketika itu, kita masih saja berdua, menyulam malam yang diatasnya banyak tebaran gemintang. Kita sendiri sibuk akan hal itu, sampai-sampai pagi lahir kembali menjemput malam dan kamu masih terpaut olehku. Percakapan kita tentang hal-hal yang tak pernah kita rencanakan, membuai jiwaku dan menghasutnya masuk ke dalam palung. Ruang paling dalam di relung hatimu.

Lalu seketika aku tersadar dengan tubuh yang tanpa jiwa, tanpa mimpi, tanpa asa ketika kamu pergi jauh ke negeri nun jauh disana. Sontak saja, aku mencari segala cara agar bisa menyentuhmu barang sehelai rambut saja. Tapi pencarian caraku berhenti ketika aku tahu bahwa semua itu adalah muskil, tak mungkin terjadi. Aku patah asa, putus jiwa, sakit rindu karena tak bisa lagi aku merasakan genggaman lembut dari setanganmu itu.

Lekas aku berharap agar segera dipertemukan oleh media paling ampuh untuk menyampaikan salam rinduku, itu yang kumau, hanya itu.

Kemudian, saat dini hari, aku berjalan tak tentu arah dan melihat ada setetes embun itu. Embun yang paling dingin dan paling bercahaya ketika itu. Tak mau aku kehilangan kesempatan, segera saja aku ambil pisau dan kupotong daun yang diatasnya menyimpan embun itu. Lalu kusimpan pada kantong plastik yang ada dalam saku celana ku. Tak ada yang tahu, aman.

Bagaimana? Apakah kamu merasakan sejuknya embun itu? Sengaja aku kirim embun itu melalui mimpi-mimpi yang pernah kita berdua rajut sendiri dibawah bulan yang manis.

Terimalah. Agar aku bisa bersemayam dengan tenang dalam tiap lelapmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *