Seperti biasa, Katno adalah orang paling mabuk sedunia. Ia tidak pernah bisa menenggak lebih dari 5 gelas bir. Tapi menurutnya, ia masih saja kuat dan gagah setelah gelas ke enam lalu berjalan tiga langkah ke depan dan ambruk. Tertidur. Tapi malam ini adalah malam untuk pertama kalinya ia datang lagi ke Barsita, pemiliknya bernama Sita, tempat paling indah para pemabuk dunia malam. Beda dengan pemabuk dunia pagi, mereka biasanya hanya mabuk ketika sedang mendapatkan kerja lembur karena deadline yang belum terselesaikan. Ini dunia malam, jelas beda.

Ada satu jenis bir yang hanya bisa di minum oleh Katno dalam satu gelas saja, selebihnya ambruk dan terakhir kali ia meminumnya adalah dua bulan yang lalu. Ketika itu, Katno hampir saja berhenti berdetak jantungnya.

Dasar gila memang dia. Masih datang lagi ke Barsita untuk kembali meminum bir. Sita si pemilik juga sudah muak dengan si Katno ini. Ia merasa bahwa setiap kali Katno datang, selalu repot ia dibuatnya. Betapa tidak, selesai minum gelas ke enam langsung saja ambruk. Dan kali ini, Katno datang meminta bir khusus yang hanya di produksi oleh Bar milik Sita ini.

“Beri aku bir yang berlabel kuning itu. Aku sampai lupa namanya karena lama tak kesini!” ucap Katno.

“Aku tak bisa memberimu,” ucap Sita.

“Aku akan membayar berapapun yang kamu mau, asalkan kamu memberiku bir itu,” ucap Katno.

“Tetap tidak, kau ingat terakhir kali meminum itu. Kamu membuat seluruh orang dalam bar ini panik ketakutan, mereka mengira aku meracunimu,” ucap Sita.

“Itu karena mereka bodoh!” ucap Katno dengan nada sedikit meninggi.

“Sekarang cepat berikan birnya. Aku sudah rindu dengan bir itu,” lanjutnya.

“Aku akan memberikanmu bir itu. Tetapi kamu harus janji, tidak akan mengulangi kejadian yang sama seperti dua bulan lalu,” ucap Sita membuat janji dengan Katno.

“Aku berjanji. Aku sudah merasa lebih kuat sekarang,” ucap Katno membanggakan diri.

Sita pergi melengos menuju gudang untuk mengambil botol bir berwarna kuning pesanan Katno. Ia sebenarnya tidak mau memberikannya karena takut dengan kejadian dua bulan lalu. Ia mendapatkan peringatan keras dari aparat yang biasa menarik upeti, jika sampai terjadi lagi maka bar miliknya akan ditutup.

Tapi ia tak bisa menahan Katno untuk meminumnya. Sita tahu bahwa ini berbahaya dan sangat berisiko jika Katno meminumnya. Alasan utama adalah uang. Bir ini memang lebih mahal daripada bir yang biasa ia jual. Pembuatannya pun sangat terbatas.

Di waktu yang sama, Katno masih menunggu bir itu datang sambil menggumamkan lagu-lagu yang tak jelas siapa penyanyinya. Ia merasa sudah jatuh cinta dengan bir buatan Sita itu. Sampai akhirnya, Sita datang dengan membawa botol bir biasa. Ia hanya memberikan Katno segelas bir biasa yang dengan lima gelas bir itu bisa membuat Katno ambruk. Bir istimewa itu disembunyikannya di dalam celananya.

“Mana bir ku? Aku ingin bir ku. Aku sudah mencintainya seperti hujan yang menjadikanku basah kuyup, Sita,” ucap Katno meracau.

“Aku tak bisa memberikannya. Kamu cukup minum itu saja,” ucap Sita.

“Tidak, aku ingin bir ku,” ucap Katno meracau.

Katno meracau terus menerus sampai sebagian pengunjung bar melihatnya dan merasa sedikit terganggu dengan racauan Katno. Sita yang juga semakin tidak bisa menahan amarahnya akhirnya memberikan satu gelas bir istimewa itu. Bir berlabel kuning. Tanpa nama dan tanpa aroma. Katno akhirnya pergi dengan gembira walaupun dompet ia berikan pada Sita.

Setelah kejadian malam itu, Sita mengerti bagaimana keadaan Katno sekarang. Ia paham betul dimana jasad Katno dibaringkan. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis karena sudah memberikan bir istimewa itu pada Katno, manusia paling mabuk sedunia. Betapa sakit hati Sita selama ini melihat Katno yang berkali-kali ambruk hanya karena gelas bir. Sita ingin melihat Katno jatuh ambruk dalam pelukannya yang paling dalam. Nahas saja, Sita tak pernah bisa melakukan itu. Katno lebih jatuh cinta pada dunia yang ada dalam segelas bir istimewanya itu.

Katno pergi malam itu. Dan tidak pernah kembali ke dalam bir. Mungkin saja ia sedang terbaring dalam rangkulan gadis dalam gelas bir miliknya. Sita tidak bisa membayangkan bila itu adalah yang sebenarnya.

Kini Sita sendiri yang menjemput kematiannya ketika ia memberikan segelas bir istimewa pada Katno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *