Pada mulanya, Simok melakukan perjalanan keluar kota untuk berlibur dari rungsepnya lingkungan tempat dia tinggal. Di kota, Simok bertemu dengan Siti gadis belia setengah tua yang sedang menunggu antrian membeli nasi bungkus di sebuah warung. Atas dasar kenakalan yang dibawa dari lahir secara sengaja Simok menyenggol siku Siti hanya untuk membuat kesempatan berkenalan.

“Aduh, maaf ya!” Kata Simok.
“Iya, tidak apa.” Kata Siti.
“Sudah lama nunggunya mbak?” Kata Simok.
“Sudah dari 15 menit yang lalu.”
“Saya Simok, mbaknya?”

“Siti.”

Perkenalan mereka menjadi semakin ringan dan mulai terbawa alur yang diciptakan oleh Simok. Simok yang sudah memiliki dua istri ketika melihat Siti ingin menambahnya menjadi tiga. Simok yang hanya berpatokan dengan wajah Siti dan body goals yang dia miliki merasa mantap tak perlu berpikir dua kali, buatnya sekali saja sudah cukup untuk berpikir.

Siti sejatinya tak tahu menahu akan niat nakal si Simok, yang hanya tahu adalah Simok merupakan sosok yang berwibawa. Mungkin Siti sudah terbuai dengan kata-kata romantis Simok, senjata andalan paling mujarab bagi kaum Pria. Belakangan Simok tahu bahwa Siti selalu membawa sepeda motor kemana-mana dan itu dijadikan kesempatan pula untuk mendekatkan hatinya ke Siti. Bermodal alasan tidak bisa menyetir motor, Simok meminta Siti untuk mengajarnya. Kepolosan Siti perihal modus kaum Pria menjadi peluang bagi Simok.

Dengan hati berdebar, Simok menaiki motor di bagian depan dan Siti di belakang. Sesekali Siti menempel ke punggung Simok untuk mengarahkan Simok dalam menjalankan sepeda motor. Tapi keadaan jalan di sekitar tempat Siti sedikit berlubang dan membuat Simok mengalami lonjakan batin ketika Siti duduk semakin mendekat dengan punggung Simok.

“Disini banyak lubangnya ya, Siti?” Kata Simok.
“Iya, jadi gak enak kalau belajar motornya.” Kata Siti.

“Enak-enak saja kok. Kan ada Siti di belakang abang.”

Gombalan-gombalan Simok masih saja keluar walaupun pandangannya sudah tidak fokus karena Siti yang menempel di punggung Simok. Siti juga merasa enak-enak saja, toh baru kali ini dia mengajari orang menyetir motor dan baru pertama kali juga merasakan sensasi menaiki motor dengan jalan berlubang. Siti merasa ada yang bergetar ketika menempelkan badannya ke punggung Simok, gesekan-gesekan akibat jalan yang tidak rata membuatnya semakin gemetaran.

Simok yang mengetahui gelagat Siti sontok saja memutar otak supaya Siti mau menjadi istri ketiganya. Dengan hati yang mantap, Simok mengajak Siti ke tempatnya tinggal ketika di luar kota. Alasannya untuk sekadar meminum teh hangat biasa. Siti tak menolak.

Kemajuan pesat itu membuat Simok bersemangat dan motor yang ia bawa segera ditancapkannya gas. Jalanan berlubang menjadi pertarungan gairah Simok yang semakin menggebu dan Siti hanyalah korban yang menikmati pertarungan itu. Menurutnya, tidak ada yang lebih mantap dari dibonceng menaiki motor sepanjang jalan berlubang ini. Singkatnya, kamar Simok sudah terbuka lebar, lubang-lubang jalan sudah terlewati dengan tuntas, Siti hanya bisa pasrah ketika menggunakan sehelai sarung berdua dengan Simok, meminum teh hangat di kamar yang panas akan semangat membara mereka berdua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *