Pada sebuah titik temu, Aku kembali satu. Di sorong oleh desir lautan dan bisikan angin menuju arah yang belum tahu kemana. Aku hanya bisa menunggu dan melihat ruang dengan riuh penuh. Lalu, berangjak pergi masuk ke dalam palung yang dipenuhi raungan rindu.

Nyiur-nyiur kelapa sedang menari kala itu, di bawahnya Aku sedang jatuh hati. Bukan dijatuhi oleh dagingku sendiri. Tawa dan canda yang hadir dari setiap pesonamu membuat aku masih ingin tinggal barang sejenak. Karena itulah aku jatuh hati. Sambil mengiringi matari yang mulai menyelami belahan bumi lain, Aku menunggumu disini. Tidak ada lagi yang harus dikorbankan selama aku menunggu karena memang diri inilah korban itu.

Pada sebuah titik temu, Kamu kembali melaju. Di tarik oleh sang Rahwana dan bisik rayuannya menuju ke singgasananya. Aku memang bukan Rama, maka dari itu Aku memperjuangkanmu dengan menungguimu. Sampai akhirnya Rahwana sadar bahwa yang memang kamu butuhkan bukanlah rayuan romantis darinya. Tapi kehadiranku di sampingmu.

Sampai saat itu tiba, Aku masih disini. Di bawah nyiur kelapa, di pinggiran pantai yang hangat pasirnya. Aku menunggumu dengan segala rasa yang akan seterusnya ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *