Dalam sebuah percakapan antara Mulut dan Telinga terbitlah suatu pemahaman baru yang hanya bisa di mengerti oleh keduanya saja.

 

“Hey, Mulut. Siapakah di antara kita yang paling berjasa?” tanya Telinga.

“Jangan kau tanyakan itu. Sudah jelas, Aku-lah yang paling berjasa,” jawab Mulut.

“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu dengan penuh percaya diri?”

“Dasar Telinga, Apa kamu tidak mendengar pidato-pidato para pejabat? Apa kamu tidak mendengar gosip-gosip para selebriti? Apa kamu tidak mendengar radio? Tanpa aku, mereka semua hanyalah orang-orang yang dikucilkan oleh suaranya sendiri,”

“Tanpa-mu? Kamu mungkin lupa, bahwa tanpa kehadiranku kamu hanyalah indera yang tidak memiliki nilai guna,”

“Bagaimanapun juga kamu menentang pernyataanku, Aku memanglah mutlak sebagai yang paling berjasa. Tanpa aku takkan pernah ada komunikasi, takkan pernah ada persatuan, takkan pernah ada ciuman.”

“Tanpa aku pula, tak mungkin ada rayuan yang di dengarkan oleh manusia,” ucap Telinga sedikit meninggi.

“Santailah sejenak. Tak perlu meninggi seperti itu bicaramu, cukup katakan saja apa tujuanmu sebenarnya, wahai Telinga,” ucap Mulut merendah.

“Aku hanya ingin bertanya.”

“Bertanya perihal apa, kawanku?”

“Siapakah di antara kita yang paling berjasa?”

 

Perdebatan yang tadi sempat terhentikan akan segera di mulai kembali. Akan tetapi karena sudah merasa geram melihat keduanya beradu argumen perihal siapa yang paling berjasa, maka Bola Mata turut angkat bicara.

 

“Diam-lah! Tak ada yang bisa kalian banggakan, tidak ada pula yang bisa kalian buktikan bahwa satu di antara kalianlah yang paling berjasa,” ucap Bola Mata.

 

Melihat Bola Mata juga ikut berbicara, Lidah pun merasa memiliki teman untuk mengungkapkan rasa risihnya.

 

“Benar-lah yang dikatakan oleh Bola Mata. Jangan sekalipun kamu membanggakan dirimu sendiri, wahai Mulut,” ucap Lidah.

“Tanpa Aku, kau hanyalah indera tanpa nilau guna,” sambung Lidah.

“Kalau begitu, memang hanya aku seorang yang paling berjasa. Aku tidak bergantung seperti Bola Mata yang butuh Kelopak Mata. Aku tidak bergantung seperti Mulut yang tak berguna tanpa Lidah. Aku Telinga adalah indera paling mandiri,” ungkap Telinga dengan sombong.

“Seperti kataku di awal tadi. Kau tak berguna bila tidak ada suara yang masuk ke lubang tubuhmu. Tanpa gendang telingamu juga, kau tak mungkin memiliki nilai guna,” ucap Bola Mata.

 

Kemudian percakapan antar indera itu terhenti sejenak. Mereka terkejut ketika mendengar ketukan palu dalam sebuah pengadilan. Para indera akhirnya paham bahwa sebenarnya mereka tidak pernah memiliki nilai guna apabila tubuh inangnya tak bernyawa. Perihal siapa yang paling berjasa di antara indera tersebut tidaklah bisa ditentukan, mengingat bahwa semua kegiatan yang di lakukan oleh setiap indera merupakan perintah dari inang mereka.

Dalam percakapan antara Mulut dan Telinga, timbul-lah sebuah pemahaman yang hanya dimengerti oleh mereka saja. Adalah mereka berdua tidaklah yang paling sempurna dan paling berjasa jika tidak saling melengkapi. Telinga tak ada guna tanpa adanya Mulut. Mulut tak ada guna tanpa adanya Lidah. Lidah tak ada guna juga apabila tak memiliki daya untuk mengeluarkan suara. Romantis memang, tapi memang itulah hakikat kehidupan. Bila tak mengenal lebih dalam akan merasa pahit. Bila sudah mengenal lebih dalam akan merasa terlalu romantis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *