“Manusia adalah individu yang mampu memiliki pandangan atau keyakinan secara idealis dan juga di lengkapi dengan sikap realistis. Tapi tak manusia, jika manusia itu sendiri adalah abstrak pemikirannya dan sikapnya.”

 

Barangkali masih ada beberapa orang yang mengartikan idealisme sebagai hal yang negatif. Maka dari itu, perlu adanya pengertian-pengertian pendukung agar sebuah pandangan hidup individu tidak jadi sebuah momok menakutkan. Karena memang idealisme adalah sebuah pandangan atau keyakinan dalam diri tiap individu dan memiliki sumber dari pengalaman pribadi. Lingkungan pendidikan, budaya dan kebiasaan tiap individu juga termasuk kedalam sumber lahirnya idealisme seseorang.
Tapi apakah memang menjadi idealis itu perlu?
Dewasa ini, kita dapat saja simpulkan melalui kebiasaan orang-orang disekitar atau bahkan di sosial media. Banyak sekali yang mudah untuk dikonfrontasi, mudah dihasut karena memang idealisme mereka masih labil. Atau mungkin memang seperti itu idealismenya.
Tapi memang sebagai seorang manusia, idealisme itu perlu dan menjadi seorang idealis juga perlu. Sebagai pijakan langkah kedepannya sehingga tidak terjadi guncangan mental berpikir dalam diri.
Menjadi idealis hanya akan seperti anak-anak kecil yang meminta permen kepada pesawat terbang. Idealisme akan lengkap jika didampingi oleh sikap realistis dan menjadikan manusia sebagaimana wujudnya yaitu manusia seutuhnya. Manusia yang akan berpikir dan bersikap sebagaimana layaknya manusia, bukan manusia yang berpikir dan bersikap seperti bukan manusia. Kita tahu pula, banyak pula manusia tidak memanusiakan manusia. Itu bisa disebabkan karena cara berpikir dan mentalnya memang rusak, abstrak.

Dapat pula kita simpulkan bahwa menjadi sosok yang idealis itu memang perlu, menentukan jalan hidupnya sendiri, cara berpikirnya sendiri. Tapi tidak dalam setiap saat sebuah pemikiran idealis harus digunakan, ada di beberapa momen kita juga memerlukan berpikir dengan realistis. Idealis itu perlu tapi tidak selalu. Kita bisa berpikir sebagai idealis dengan semau kita tapi kita juga tidak boleh dikuasai cara berpikir atau pandangan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *