Banyak hal yang masih menjadi tabu di lingkungan kita sehari-hari. Ada beberapa yang mengatakan hal tersebut sangatlah tabu karena menyangkut privasi seseorang bahkan suatu kaum tertentu. Tapi, bila ditarik kembali hal-hal tabu tersebut maka dapat dipikirkan ulang bagaimana semestinya kita menyikapi hal tersebut tanpa ada kata tabu di dalamnya. Misal saja kasus pelecehan seksual, kasus prostitusi, atau kasus-kasus yang menyangkut sesuatu berbau seks. Kasus-kasus tersebut sangatlah tabu, tapi bagaimana kita menyikapi hal tabu tersebut sebagai sebuah sarana edukasi? Sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar penjatuhan stigma saja?

Media yang selama ini kita gunakan sebagai sarana untuk mengakses informasi sehari-hari sangat mempengaruhi pola pikir atau perspektif kita dalam menyikapi sebuah informasi. Tapi tidak pula sepenuhnya media menguasai bagaimana cara pandang kita terhadap suatu hal. Kita sebagai konsumen media juga memiliki kuasa dalam menciptakan cara pandang baru dan menyebarkan cara pandang itu agar dapat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar meski pengaruh yang ditimbulkan tidak begitu besar tapi pasti memiliki dampak.

Kita berhak menciptakan cara pandang baru dalam contoh kasus pelecehan seksual, mengubah perspektif bahwa korban merupakan orang yang kotor dan tidak suci lagi. Kita bisa mengubah itu dan juga kita sendiri secara tidak langsung memberi dukungan moral dan psikologis terhadap korban. Budaya cara pandang kita dipengaruhi oleh banyak sekali faktor antara lain agama, keluarga, lingkungan adat, dan media. Media memiliki pengaruh cukup besar dari beberapa faktor tersebut karena setiap hari kita mengakses banyak sekali informasi dari media baik cetak maupun online.

Lalu penyebaran hoax adalah salah satu bukti bahwa kita cukup sering mengakses media sehingga terjadi suatu proses persuasif yang membuat kita terpengaruhi kembali menyebarkan berita tersebut. Sekarang yang salah sudah sedikit terbuka antara manusia atau konten dalam media.

Sekarang siapa yang salah di antara manusia atau konten dalam media?

Yups, yang salah adalah budaya kita dalam memberi interpretasi dalam sebuah konten yang tersebar dalam media. Konten tersebut bisa berupa apa saja, tapi media seperti memiliki kekuatan magis dalam memberi ketertarikan saat sekelebat saja kita melihatnya.

Kembali pada pokok pembahasan di paragraf pertama. Banyak hal yang dibuat tabu untuk mengurung cara pandang kita, perspektif kita. Penting kita melihat bagaimana tanggapan tentang bagaimana cara kita untuk saling bertoleransi. Banyak sekali pro-kontra dalam sebuah kata “Toleransi’ ini karena ada yang mengemukakan bahwa toleransi hanyalah sekadar saling paham dan mengerti, bukan saling support dan membantu bila ada yang dibutuhkan. Toleransi, menurut saya, lebih dari itu. Ketika kamu berjalan berdampingan dengan temanmu yang memiliki perbedaan keyakinan(bukan saja agama) maka itu toleransi. Ketika kamu masih bercakap santai sambil minum kopi berdua atau saling merokok sebatang saja walaupun berbeda keyakinan(masih, bukan saja agama) maka itu toleransi. Ketika kamu jatuh cinta pada seseorang yang mungkin seagama tapi beda keyakinan maka itu toleransi.

Keyakinan bukanlah suatu agama, menurut saya, tapi keyakinan adalah perasaan bahwa sesuatu yang saya atau kalian lakukan benar. Agama memang mengandung keyakinan, tapi keyakinan tidak mengandung agama. Agama juga bukan Tuhan. Agama adalah cara kita melabeli kuasa Tuhan yang kita percaya memang benar adanya beserta hukum-hukum yang ia anugerahkan pada umatNya.

Kemudian dengan kesederhanaan makna toleransi yang kita percaya, maka hal-hal tabu yang sebelumnya menjadi sesuatu yang saru akan berubah. Kita berpikir lebih sederhana. Tidak perlu lagi mengaitkan kembali hal tersebut kepada hal-hal agamis. Selama sesuatu dapat ditanggapi secara sederhana maka berita-informasi-hoax akan hilang dengan sendirinya. Karena saya percaya bahwa cara pandang kita dapat lebih mudah mengolah suatu informasi yang tersebar di media apabila lebih disederhanakan. Contoh saja seperti kasus pelecehan seksual, sederhana kita tidak perlu menyebarkan berita tersebut kita hanya perlu untuk lebih membatasi diri dan membantu teman agar tidak ikut menjadi korban. Apabila korban berada dekat dengan lingkungan kita, maka rangkul dia. Jangan pernah menatap secara intimidatif, tapi berikan ucapan yang motivatif agar dia lebih memiliki kepercayaan diri.

Sederhana. Kita tidak perlu memikirkan segala hal dengan berbagai rumus kehidupan yang diajarkan oleh banyak buku filsafat. Kita hanya perlu sebuah kesederhanaan.

Tabik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *