Hari baik, Bulan baik, saya ingat tentang beberapa kenangan yang sudah tertulis 2 sampai 3 tahun yang lalu. Saya melawan lupa. Waktu itu, Saya masih bersekolah di SMA negeri di daerah saya. Saya tidak perlu menyebutkan nama sekolahnya, karena saya malu. Cukup saya informasikan saja bahwa SMA saya memiliki fasilitas kamar asrama. Dan memang seluruh siswanya harus wajib menempati asrama tersebut.

Bisa dibayangkan sendiri pula, berapa banyak kenangan yang saya dan teman-teman saya tulis dalam selembar Ijazah Kelulusan. Sebagai contoh kecil dan tak bisa terlupakan adalah ketika menjelang Bulan Ramadhan seperti ini, Kami biasa tidak tidur ketika malam hari sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Bukan berniat untuk begadang menunggu sahur, tapi bermain sepakbola. Kegiatan itu dilakukan sampai sahur pukul 03.00 dini hari.

Mengingat kembali masa muda itu membuat saya sedikit mellow. Betapa tidak, kami tidur di Asrama, setiap hari bertemu dengan teman dan berkumpul bersama. Canda-tawa, Suka-duka, Susah-senang, kami lalui bersama. Kenangan kami semakin tumbuh begitu saja tanpa ada yang memberi pupuk atau sekadar menyiraminya. Kenangan masa SMA memang sulit sekali dihapuskan. Jika ada lagu yang berkata bahwa Masa SMA adalah Masa yang sulit dilupakan memang benar adanya. Karena saya mengalami itu sendiri, mungkin diluar sana banyak juga yang sepemikiran dengan saya. Bagus atau Jelek sebuah kenangan akan tetap indah, kenapa? Karena kenangan hanya ada di masa lalu dan tidak dapat kita ambil lagi untuk masa depan kita.

Tadi malam saya juga sempat bercakap-cakap dengan teman saya melalui DM Instagram. Saya tahu bahwa dia rindu dengan masa itu dan dia mungkin saja tahu bahwa saya juga rindu. Tanpa perlu di bicarakan saja, kita merindu pada masa lalu. Karena memang itulah gunanya masa lalu, menutup semua akal sehat dan membangunkan semua kenangan dalam hati juga pikiran.

“Kenangan berada di belakang, dan kita manusia tidak bisa kembali ke belakang. Kita hanya bisa berjalan dengan condong ke depan,” ucap Saya.
“Tapi tidak selalu kita harus condong ke depan. Kadang kita juga harus sedikit memutar punggung ke belakang sekadar melegakan beban yang ada,” ucap Teman Saya.
“Kalau itu, adalah kebutuhan relatif manusia,” ucap Saya bercanda.
“Itu benar.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *