Siang ini, salah satu hari yang harusnya baik, Saya memilih untuk menjadi nakal sedikit. Meninggalkan kelas perkuliahan karena sudah terlalu jenuh di dalam kelas. Betapa tidak, Saya merasa mata kuliah hari ini susah sekali untuk masuk dan dicerna oleh otak Saya yang memiliki kapasitas hanya 2 kb saja. Sudah dapat dipastikan bahwa Saya akan sangat tertekan, bukan karena aura dari dosen saya yang membuat tertekan tapi karena kinerja otak Saya yang pas-pasan. Hanya itu.

Akhirnya saya keluar dari kelas seusai absen, lumayanlah. Biarpun nakal tapi tetap absen, hehe.. 

Di pinggir jalan raya, depan kampus Saya ada beberapa pedagang makanan dan juga minuman ringan. Kali ini perut saya yang tertekan dan akhirnya berhenti ke gerobak/rombong penjual siomay dan batagor.

pak, batagor satu!” kata Saya.
okay.
instagram.com/sijuni_/

Setelah makan, Saya berbincang sedikit dengan bapak si penjual batagor dan siomay itu. Dia bercerita bahwa mulai berjualan sejak tahun 2000, banyak peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu selama itu. Dia memang tidak bercerita tentang semua itu, tapi Saya bisa membaca raut mukanya. Bukan peramal memang, tapi sebagai awam kita memang bisa memprediksikan sesuatu yang sudah dialami oleh orang lain hanya dengan menatap raut wajahnya saja bukan? Masalah itu memang benar terjadi atau tidak, toh itu bukan urusan kita, itu adalah privasi individu masing-masing yang tidak semua orang harus tahu.

Dia bercerita juga bahwa sering kali ketika berkeliling untuk menjual siomay mendapat halangan, seperti penggusuran yang dilakukan oleh para penertib pedagang kaki lima(saya tidak tahu apa kata untuk menyebutnya). Saya juga bertanya dimana biasa mangkal, dia menjawab sambil menunjukkan arah tempat ia biasa mangkal.

disitu, depan dealer motor yang gak kepake itu. Tapi itupun kalau gak digusur.
instagram.com/sijuni_/
Sayangnya, perbincangan singkat sudah harus berakhir ketika teman saya sudah keluar dari kelas dengan membawakan tas Saya. Dari perbincangan singkat tadi dapat disimpulkan secara sederhana yaitu:
1. Orang Indonesia selalu ramah
Mungkin yang bilang tidak ramah adalah orang-orang yang tidak bisa menggunakan tata bahasa dan suasana dengan baik sehingga membuat orang menjadi risih dan kesal.
2. Lebih bersyukur
Dengan berbicara terhadap orang lain kita bisa mengetahui segala kejadian yang dialami. Tak perlu banyak bicara ketika baru pertama kali bertemu, ringan-ringan saja. Biarkan mengalir sampai akhirnya kita akan di temukan pada satu titik untuk kembali bersyukur dengan kehidupan yang kita miliki sendiri ketika sudah mendengar cerita-cerita dari orang-orang  yang baru pertama kali kita temui.
 
3. Tak perlu malu
Dalam mencoba untuk bersosialisasi tak perlu ada kata malu. Kita sudah lahir menjadi makhluk sosial, maka dari itu tak perlu malu dengan kata bersosialisasi ini, bila kita dapat membawa percakapan yang ringan dan nyaman pastilah proses sosialisasi menjadi lancar. Kita bisa tahu informasi tentang apa saja dari orang lain tapi tentunya kita pasti harus memberi informasi pula, walaupun tanpa diperintah kita sudah memberi informasi. Entah itu informasi penting atau tidak, biar saja itu di interpretasikan sendiri oleh si penerima informasi.
Kembali lagi ke awal dan judul, Orang Indonesia masih punya sifat aslinya yaitu keramahan hati. Jadi jangan suka menganggap bahwa orang yang baru pertama kali bertemu adalah orang yang kaku dan tidak bisa diajak berbincang-bincang ria. Itu salah. Mari, kembali bicara dengan orang sekitar kita dan mencoba mendengarkan, jangan hanya memanfaatkan sosial media di dunia maya toh media kita sesungguhnya adalah bahasa yang ada di dunia nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *