Siang itu, Yu’ Wer si penjaga kantin, gadis belia 21 tahun yang sedang matang-matangnya sedang melayani para pelanggan yang memesan makanan. Salah satu dari pelanggan itu, Si Ripal, adalah karyawan perusahaan tempatnya bekerja sebagai penjaga kantin. Ripal sudah sedari dulu menyimpan rasa ke Yu’ Wer yang bekerja di kantin tempatnya bekerja dan Yu’ Wer tahu gelagat itu sedari dulu.

Yu’, aku nasi campur satu sama es teh satu yah,” ucap Ripal.
“Iya, rip.” ucap Yu’ Wer.

Dengan sikap Ripal yang sedikit menggoda dan membusungkan dadanya agar terlihat gagah di hadapan Yu’ Wer, walaupun Yu’ Wer tak pernah menggubrisnya, sekali pun tidak pernah. Cat calling yang menjadi senjata andalannya membuat Yu’ Wer risih dan merasa tidak nyaman ketika mengantarkan makanan pesanan Ripal. Aksi colak-colek yang dilakukan Ripal juga membuat Yu’ Wer terganggu, sontak saja Yu’ Wer memikirkan satu cara agar Ripal tak lagi mengganggunya. Entah dengan cara apa yang dilakukannya, asalkan si Ripal tak lagi mengganggunya.

Di tengah-tengah memikirkan cara itu, Ripal tiba saja mengajak kencan Yu’ Wer pada malam kamis minggu ini. Pikir Yu’ Wer ini adalah sebuah kesempatan baginya untuk mengerjai si Ripal pengagumnya yang mengganggu itu.

“Gimana Yu’, Mau?” tanya Ripal.
“Iya silakan,” ucap Yu’ Wer.
“Oke, akan ku jemput di depan kosmu pukul 8 malam.”
“Iya.”

Berbagai pikiran nakal yang hadir dari fantasi si Ripal menjadi bahan bakarnya dalam bekerja hari ini dan esok juga, sedangkan Yu’ Wer masih sibuk mencari cara agar Ripal tak lagi mengganggunya. Sampai akhirnya satu cara licik datang dan menjadi dasar rencana untuk menjahili Ripal.

Hari berlalu, malam kamis tepat pukul 08.00 WIB, Ripal sudah berdandan dengan segenap kepercayaan dirinya. Yu’ Wer pun berdandan sebagaimana adanya saja, pikirnya tak perlu mewah untuk sekadar bertemu dengan Ripal. Langsung saja, mereka berdua berkeliling kota dan berhenti sebentar untuk makan di warung pinggiran jalan, lalu dilanjut lagi berkeliling kota menggunakan motor sport milik Ripal. Perjalanan mereka akhirnya berhenti ketika Ripal berhenti di daerah puncak, depan kamar villa yang memang sudah di pesannya setelah Yu’ Wer meng-iya-kan ajakan kencannya. Yu’ Wer yang tak tahu jika dibawa oleh Ripal kesini mulai mengubah konspirasi yang sebelumnya sudah ia rencanakan.

“Masuk dulu, Yu’!” ajak Ripal.
“Kenapa kita kesini?” tanya Yu’ Wer.
“Kita ngaso dulu.”
“Oh, baiklah.”

Dalam kamar villa sudah tersedia minuman dengan botol kaca yang tersusun rapi di atas meja. Ripal dengan santainya mengambil pembuka tutup botol dan membuka botol tersebut, meminum airnya dalam gelas yang ada diatas meja pula. Yu’ Wer hanya diam saja, terduduk di sudut kasur. Dipaksanya Yu’ Wer untuk meminum air itu, walaupun awalnya menolak tapi akhirnya doyan juga.

Sadar akan niat nakal Ripal, Yu’ Wer izin untuk ke kamar mandi untuk membuang hajatnya. Tapi sebenarnya Yu’ Wer menyusun rencana kembali agar Ripal tak bisa melakukan niat nakalnya. Di keluarkan dompet dari saku belakang celana jeansnya yang sudah tak muat menampung bongkahan bumi terbelah itu. Yu’ Wer ingat bahwa masih menyimpan foto mantannya yang pergi meninggalkan Yu’ Wer karena menikah dengan wanita lain. Sebuah ide gila muncul, Yu’ Wer pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan hati yang mantap meski kepalanya sudah terasa pusing dan jalannya pun sudah sempoyongan.

Pura-pura Yu’ Wer menjatuhkan dompetnya dan Ripal berniat untuk mengambil dompet itu untuk Yu’ Wer. Tapi ketika dilihat isinya, ada foto pria disana. Selama ini Ripal tak pernah tahu bila Yu’ Wer pernah menjalin hubungan kekasih dengan orang lain.

“Ini dompetmu jatuh,” ucap Ripal.
“Ah, terima kasih,” ucap Yu’ Wer.
“Itu foto siapa di dompetmu?”
“Kamu melihat isinya?”
“Tak sengaja, siapa dia?”
“Sebenarnya aku gak mau kalau kamu mengetahui ini. Ini adalah rahasiaku.”
“Memangnya dia siapa? Sampai kamu menjadikan dia sebagai rahasiamu.”
“Cowok di foto itu adalah aku, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk operasi.”
“Wagelasehh!!”

Tiba-tiba saja, Ripal tergeletak pingsan mendengar rahasia itu. Dan Yu’ Wer tertawa dalam hatinya melihat konspirasi yang dilakukan berhasil. Memang foto itu bukanlah foto dirinya ketika masih pria, tapi perihal operasi itu bukanlah suatu kebohongan semata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *