Pada Sebuah Titik Temu

Pada sebuah titik temu, Aku kembali satu. Di sorong oleh desir lautan dan bisikan angin menuju arah yang belum tahu kemana. Aku hanya bisa menunggu dan melihat ruang dengan riuh penuh. Lalu, berangjak pergi masuk ke dalam palung yang dipenuhi raungan rindu. Nyiur-nyiur kelapa sedang menari kala itu, di bawahnya Aku sedang jatuh hati. Bukan dijatuhi oleh dagingku sendiri. Tawa dan canda yang hadir dari setiap pesonamu membuat aku masih

Yang Menjelma Jadi Lagu Dan Menjadi Namamu

Subuh dingin di satu hari baik kala itu, tahun-tahun terakhir kita bersama. Kamu masih setia dengan gincu warna merah itu, merekah dan tampak sangat megah menyatu di bibir tipismu. Aku juga masih setia dengan memelukmu dalam tiap tidur malamku sampai subuh ini. Sampai pada akhirnya, kita tenggelam kembali. Lubang menganga yang jadi penghalang kita sudah hilang, sirna. Tapi masih ada yang akan selalu menjadi penghalang aku dan kamu, bukan jarak

Tenggelam Aku di Rupamu

  Lautan seakan jadi rumahmu. Bisikan ombak jadi suara paraumu. Angin laut yang dingin jadi helaan napasmu. Lambai nyiur kelapa jadi helai rambutmu. Kamu, malam ini, penguasa lautan di seluruh duniaku. Bukan dunia manusia, tapi dunia yang kubuat sendiri dari asa yang ku himpun sendiri bersama sepi. Sampai pada tiba saatnya, aku terduduk di pinggiran bibirmu, dan jilat lidahmu menyusup ke dalam sela jemari kakiku. Kemudian aku berenang menuju pusatmu.

Setetes Embun Untuk Perempuanku

Aku letakkan setetes embun yang dingin dalam bola matamu kali ini agar kamu tahu betapa sejuknya embun itu membasuh rongga-rongga matamu. Tapi aku masih belum bisa memastikan, apakah embun itu bisa bertahan selama mungkin agar matamu tetap sejuk selama mungkin. Menurutmu bagaimana? Apakah bisa bertahan selama mungkin, paling tidak selama kamu sendiri tidak menangis dan mengeluarkan tetes embun itu bersamaan dengan linang air matamu. Embun paling dingin yang kukirimkan padamu

Surat Dari Gula

Dalam satu hari baik, kita bertemu dalam sebuah cangkir percakapan. Kamu adalah kopi yang mengisi secangkir itu dan aku adalah gula yang tenggelam dan larut oleh kopi itu. Semua orang takkan pernah mau menyalahkan kamu dan hanya akan memuji kamu. Betapa tidak, Kopi manis saja yang disalahkannya gula. Kopi pahit dipujinya kopi saja. Tapi tidak apa, asal saja kita tidak dipisahkan oleh gelas yang berbeda. Atau bahkan kamu yang hanya