Dalam satu hari buruk, Joko dan Juni akan segera berpisah karena keadaan ekonomi yang memaksa Joko untuk pergi bertolak ke luar negeri menjadi TKI. Berbekal pengetahuan bahasa inggris yang minim seperti rok yang dipakai cabe-cabean, Joko meninggalkan kekasih hatinya yang belum lama di pacarinya. Drama perpisahan seperti di film-film korea jadi bumbu dalam perpisahan Joko dan Juni di Bandara. Maklum saja, mereka baru seminggu menjalin kasih dan belum merasakan sensasi pagutan masing-masing, bila melakukannya di Bandara bisa dikata mesum. Jadilah mereka menahan rasa dan juga gairah demi nama baik mereka sendiri.

 

“Ini buku catatanku. Di halaman terakhir.” Kata Joko.

“Jangan lupa minum obat maag. Makanan disana pasti gak cocok di lidahmu!” Kata Juni.

Sesal beribu sesal, pesawat yang membawa batang tubuh Joko akhirnya lepas landas dan hati si Juni pun kandas. Buku catatan berwarna merah muda milik Joko masih berada di sela-sela ketek Juni. Nanti saja membaca bagian belakangnya, tunggu sampai rumah dulu.

Dasarnya si Juni memang cantik dengan bentuk jemari yang lentik lagi, postur tubuh yang asyik. Maka tak bisa dipungkiri, para supir taksi yang sengaja nge-tem di depan Bandara terpesona dengan mulut mereka mengeluarkan desisan menahan birahi yang bergejolak. Dan kemarahan para supir taksi terpancing ketika Juni lebih memilih untuk memesan kendaraan dari pengemudi ojek onlen.

Di samping itu, Joko masih sedih meninggalkan si Juni pacarnya yang baru seminggu lalu di ajak berkencan. Tapi Joko juga semakin tidak sabar untuk segera mendarat dan berkenalan dengan para wanita yang tinggal di negara tempat ia bekerja nanti. Namanya juga lelaki kalau tidak main hati pasti kekurangan sensasi. Harapan Joko telah ditulis di halaman paling belakang buku catatannya, meskipun tak pernah lebih dari satu catatan dalam buku itu. Biar saja si Juni yang mentafsirkan catatan pertama dan terakhir dari Joko.

Setelah sampai rumah, Juni segera berbaring dengan dasternya yang cute. Dengan jantung berdebar-debar, ia buka tiap halaman yang ada dalam buku catatan itu. Kosong semua, ya memang karena si Joko tidak pernah menulis catatan dan sampai dengan akhir halaman ada tulisan tangan Joko yang sedikit amburadul seperti anak TK diberi perintah membuat surat cinta, acak-acakan. Kata demi kata ia baca perlahan agar paham dengan yang dimaksud oleh Joko si Pemilik Hatinya.

Isi surat Joko:
“Juni-ku tercinta, maafkan Joko bila tak menepati janji yang pernah terucap ketika pertama kali menjalin hubungan kasih. Jangan rindu, itu berat. Joko saja tidak rindu, sedikit resah saja karena akan lama tidak bertemu dengan Juni.
Jangan lupakan Joko karena Joko masih punya utang uang ke Juni sebanyak seratus lima puluh ribu. Ingatkan jika Joko sudah kembali dari perantauan atau Joko akan kirimkan uangnya ketika sudah dapat gaji disini. Jika tidak, pasti Joko bayar dengan mengangsur macam ketika membeli suatu barang di toko-toko elektronik. Berjaga bila sewaktu-waktu Joko masih belum bisa pulang.

Dan.. Joko lupa ingin menuliskan apa. Intinya saja ya, bila Joko tidak bisa kembali dan tidak ada kabar sama sekali maka carilah lelaki yang lebih jelek dari Joko agar jika Joko tiba-tiba pulang, Juni akan dengan rela hati melepaskan lelaki itu.”

Juni yang hanya bisa menahan teriakan tangis memilih menutup mulutnya dengan bantal agar teriakannya tidak keluar. Tapi air matanya tetap tidak bisa dibendung walaupun dibantu oleh Bendungan Katulampa sekalipun.
“Dasar lelaki gak bertanggung jawab! Nyesel deh baru inget sekarang. Utangnya belum lunas malah ditinggal keluar negeri. Besok senin makan apa coba?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *