Tiap manusia memang sudah punya otak dan pasti memang harus berakal, beda dengan hewan yang memang punya otak tapi tidak punya akal hanya mengandalkan insting liarnya. Tapi apakah semua manusia menggunakan otaknya untuk mengolah akal dengan maksimal?

Kita tahu bahwa Indonesia sedang menjalani masa kritis karena banyak sekali penyebaran hoax dan juga adanya kampanye politik menjelang pilpres 2019. Hoax yang menjurus kearah kebencian, kampanye yang menjatuhkan salah satu pihak. Itu adalah contoh yang paling mudah kita amati saat ini untuk mengetahui bahwa Indonesia sedang mengalami masa kritis itu. Lalu, cara kita untuk mengurangi masa kritis itu bagaimana?

Tentu dengan buku, kita bisa mencegah untuk langsung percaya terhadap hoax-hoax di media sosial. Tidak selalu buku yang menjadi bahan acuan untuk mencegah terprovokasinya diri kita terhadap hoax tersebut, tetapi dengan referensi tulisan dari beberapa sumber juga bisa jadi pencegahnya.

Membaca buku dan membaca tulisan dari beberapa sumber terpercaya membuat kita memiliki pendirian utuh dan tak mudah diterpa oleh isu hoax. Otak kita pun belajar untuk mengolah akal menjadi lebih sehat lagi. Kita juga bisa belajar untuk saling berdiskusi dan berargumentasi karena memiliki dasar pengetahuan yang pasti, bukan pengetahuan yang tak berisi. Memang benar bila proses membaca adalah sebuah proses yang membosankan, sangat membosankan. Tapi bosan adalah tantangannya. Sama saja ketika memancing ikan, kita melatih kesabaran menunggu umpan dimakan ikan. Bila tidak dapat ikan, toh kita sudah berlatih untuk sabar, itu poin pentingnya. Lain lagi bila analogi ini disamakan dengan memancing emosi, kita tak mungkin dapat hikmahnya tapi malah mendapat petaka. Hehe…

Membaca butuh kesabaran, ketika sudah rampung membaca suatu buku atau tulisan kita dapat ilmunya. Untuk digunakan berdiskusi atau beradu argumen pun bisa, tak digunakan untuk itu pun kita masih untung dengan mendapat ilmunya. Bukan begitu?

Kembali ke topik awal, buku dan tulisan adalah sumber bahan bakar dari akal yang ada dalam otak manusia. Tidak pernah ada buku yang mengajarkan keburukan, ketika seseorang melakukan keburukan yang berdasar buku maka yang salah adalah orang tersebut bukan bukunya. Karena seorang penulis buku akan selalu mencoba untuk membagi ilmu yang bermanfaat kepada para pembacanya. Entah isi buku tersebut hanya berupa cerita-cerita cinta remaja milenial sekalipun, tapi pasti akan ada ilmunya. Tak mungkin kosong ilmu, yang kosong ilmu hanyalah buku tulis yang tidak pernah digunakan untuk menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *