Tepat pada tanggal 13 Agustus yang lalu, saya melakukan perjalanan singkat yang panjang untuk diceritakan. Di post sebelumnya saya hanya mempublishkan keisengan saya dalam hal fotografi. Dan saya juga sudah berjanji untuk bercerita bagaimana perjalanan yang menurut saya singkat tapi memiliki cerita panjang.

Seperti yang kita tahu, bahwa menaiki kereta api dengan tujuan keluar kota adalah hal yang menarik. Mulai dari awal mulai perjalanan sampai akhir akan bisa kita lihat rumah-rumah warga di pinggiran rel kereta. Sederhana, tapi menarik untuk diselami dan dialami. Saya pun begitu, saya tertarik dengan rumah-rumah warga sederhana itu. Dan bagaimana mungkin rumah tersebut memiliki suasana kehangatan yang belum saya lihat. Ya, mungkin saya sudah berada di dalam suasana hangat lain, sehingga membuat saya merasa asing dengan yang saya lihat.

Sawah-sawah yang belum dipanen, masih hijau-hijau sekali. Ada pula bukit-bukit kecil tapi gersang, beberapa pohon tinggal batang masih tetap tumbuh menjulang. Lalu keadaan di dalam gerbong kereta yang terus saja maju juga menciptakan sebuah perasaan adiktif. Membuat candu setiap orang seperti saya.

Kemakmuran yang sering saya dengar dari janji-janji semasa pemilu membuat saya merasa itu sebuah kebohongan biasa. Kemakmuran yang selalu saja tertuju pada nilai materil itu tentu tak perlu, kemakmuran dalam nilai hubungan erat keluarga-lah yang menjadi penentu. Saya mungkin hanya bisa bercerita dan tak bisa berbuat banyak dalam mewujudkan kemakmuran dalam hal yang sebutkan tadi. Tetapi, setidaknya, saya masih bisa menyebar luaskan tulisan saya ini. Berharap ada orang yang membaca dan merespon positif pernyataan saya tentang kemakmuran.

Harta memang sumber dari kemakmuran, tapi ia bukanlah satu-satunya sumber. Ketika melakukan perjalanan ini, saya menyadari bahwa menjadi sederhana dan hangat adalah impian semua masyarakat kita. Betapa tidak, ketika masuk dalam sekolah saja pergaulan kita akan dilihat dari seberapa sederhana keluarga kita. Dalam ranah pekerjaan, kita juga akan disisihkan dari seberapa sederhana pekerjaan yang kita jalani. Kita hanya memerlukan sifat sederhana itu. Agar tidak terjadi suatu perpecahan yang mengganggu persatuan. Bukankah kesederhanaan adalah sifatnya orang Indonesia. Jika ada orang lain yang tidak memiliki sifat sederhana, mungkin itu bukanlah kesalahan dia sendiri. Tetapi sudut pandang kita dalam melihat dan menyikapi sebuah kesederhanaan saja yang berbeda. Bisa saja, ia merasa sudah sederhana sekali kan?

Berpikir untuk beberapa kali dalam menyikapi atau menanggapi sifat manusia adalah keharusan. Karena kita sendiri adalah manusia.

Dalam perjalanan yang membentang sepanjang 314 kilometer ini, saya menyadari semua hal sederhana itu. Dan kemudian tertanam dalam pikiran bahwa sederhana adalah hak dan kewajiban yang sebenarnya harus kita miliki. Kita manusia, makhluk yang menghuni bumi selama berabad-abad yang lalu sampai sekarang, lantas mengapa kita harus bersifat langit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *